Pagi ini gue berangkat sekolah bereng Indra, kebetulan rumah kita gak jau banget cuma setengah Kg, alias cuma dibatasi tembok perumahan.
"Dingin iya panas apa lagi, Purworejo itu konyol ternyata. Bisa-bisa gue mati kepanas dinginan nih" keluhku yang masih JAIM itu. secara orang kota pindak ke desa.
"Lu ngomong apa sih" jawab Indra sok bisa nyamain bahasa gaul gue.
"ee.. eenggak ayo balapan, siapa cepet dia dapet Enggar. hahaha" langsung sepeda kukayuh cepat. tapi dengan tak kalah cepatnya lagi Indra menyusulku.
"ayooo cemen... aku yang bakalam dapet Enggar tercinta. huahahaha" kebahagiaan Indra tak terbendung melihat posisiku yang terpaut lumayan jauh.
Jam pertama pelajaran kulalui dengan biasa saja, hingga akhirnya istirahatpun tiba dan semua berakhir disini. Karena ketampanan ataupun cara ngomong gue yang keren, maka para senior merasa iri dan akhirnya mengunciku dalam kamar mandi yang konon angker nan bertuah itu. Pagi sampai siang, saat istirahat kedua dimulai. Budi dan teman-teman kelas pada risau ternyata setelah 2jam lebih gue gak muncul di kelas. Ahh mereka memeng sahabat sejati kayaknya.
"eS, kau masih ada di dalem? sorry ya tadi soalnya senior, gak berani aku" teriak Budi seperti ngomong sama manusia gua, keras banget.
"iya Broo.. tulung lah"
"oke, tapi aku makan dulu ya. ati-ati eS ais ini ada rasia manusia gua"
setelah menuuunggu lama dan akhirnya,
"tok tok tok.. totok totok" bukan bunyi pintu tapi mulut Budi yang memonyong sersamaan dengan bunyi monyong Indra.
"woooy setan... bukain"
"wah tapi kayanya kau asik lho. Di WC sendiri gelap, wuih gak ikut pelajaran bu.Widi lagi"
"taeeek, ngapain coba? cuma bisa duduk terhimpit, bau bau.. buka cepetan setaaan. udah mau masuk nih" rengekanku semakin dalam sampai hati inipun ikut menangis.
"ngek... ayo keluar. malah ngumpet"
"nyesek.. nyesek gue"
"makanya jangan kebanyakan bacot gue lo gue lo gak jelas. welcome to Purworejo. Ini kotanya orang cerdas dan berbudaya" ucap Indra yang sudah kaya omongan kakekku saja.
Sejak itu gue loe dalam kamus kehidupanku yang baru ini aku buang, walau harus monyong-monyong karena belum terbiasa. Alasanya cukup realistis, takut dikerjain senior lebih dari hari ini. Bisa-bisa kalau bahasa gau keren nan memukau itu dilanjutkan akan terjadi kasus, mungin pembunuhan. SEORANG PELAJAR KELAS 1SMP DIBUNUH KARENA BAHASA GAUL atau STIVE SEORANG PELAJAR SMP SWASTA MANDIRI MONYONG KARENA BELAJAR BAHASA BAKU, kan gak lucu. Orang tua yang selam ini membesarkanku pun bukanya bersedih baca berita kaya gitu tapi malah ngakak. Anaknya jadi gak jelas gara-gara ngikutin tuntutan budaya tempat tinggalnya.
"ayooo cemen... aku yang bakalam dapet Enggar tercinta. huahahaha" kebahagiaan Indra tak terbendung melihat posisiku yang terpaut lumayan jauh.
Jam pertama pelajaran kulalui dengan biasa saja, hingga akhirnya istirahatpun tiba dan semua berakhir disini. Karena ketampanan ataupun cara ngomong gue yang keren, maka para senior merasa iri dan akhirnya mengunciku dalam kamar mandi yang konon angker nan bertuah itu. Pagi sampai siang, saat istirahat kedua dimulai. Budi dan teman-teman kelas pada risau ternyata setelah 2jam lebih gue gak muncul di kelas. Ahh mereka memeng sahabat sejati kayaknya.
"eS, kau masih ada di dalem? sorry ya tadi soalnya senior, gak berani aku" teriak Budi seperti ngomong sama manusia gua, keras banget.
"iya Broo.. tulung lah"
"oke, tapi aku makan dulu ya. ati-ati eS ais ini ada rasia manusia gua"
setelah menuuunggu lama dan akhirnya,
"tok tok tok.. totok totok" bukan bunyi pintu tapi mulut Budi yang memonyong sersamaan dengan bunyi monyong Indra.
"woooy setan... bukain"
"wah tapi kayanya kau asik lho. Di WC sendiri gelap, wuih gak ikut pelajaran bu.Widi lagi"
"taeeek, ngapain coba? cuma bisa duduk terhimpit, bau bau.. buka cepetan setaaan. udah mau masuk nih" rengekanku semakin dalam sampai hati inipun ikut menangis.
"ngek... ayo keluar. malah ngumpet"
"nyesek.. nyesek gue"
"makanya jangan kebanyakan bacot gue lo gue lo gak jelas. welcome to Purworejo. Ini kotanya orang cerdas dan berbudaya" ucap Indra yang sudah kaya omongan kakekku saja.
Sejak itu gue loe dalam kamus kehidupanku yang baru ini aku buang, walau harus monyong-monyong karena belum terbiasa. Alasanya cukup realistis, takut dikerjain senior lebih dari hari ini. Bisa-bisa kalau bahasa gau keren nan memukau itu dilanjutkan akan terjadi kasus, mungin pembunuhan. SEORANG PELAJAR KELAS 1SMP DIBUNUH KARENA BAHASA GAUL atau STIVE SEORANG PELAJAR SMP SWASTA MANDIRI MONYONG KARENA BELAJAR BAHASA BAKU, kan gak lucu. Orang tua yang selam ini membesarkanku pun bukanya bersedih baca berita kaya gitu tapi malah ngakak. Anaknya jadi gak jelas gara-gara ngikutin tuntutan budaya tempat tinggalnya.



No comments:
Post a Comment